(3)
. . .
Selamat merindukan waktu luang, semoga senantiasa diberikan kesempatan.
(2)
Nyatanya hidup tak berjalan seperti yang kita rencanakan.
Waktu yang kita sepakati tidak ditepati, orang yang kita harapkan mengerti malah pergi, janji-janji yang bisa kita pastikan tak pernah jadi kenyataan, semudah kita meyakini orang-orang akan memberikan usaha terbaiknya untuk memperlakukan kita dengan semestinya ternyata hanya angan saja.
Menjadi orang yang pertama datang, menghargai setiap janji yang diikatkan, mengusahakan datang pada waktu yang ditentukan adalah salah satu caramu menghargai orang. Tapi seringkali aku mendengar kekecewaan perihal mereka yang ternyata tidak punya komitmen waktu yang sama. Rencana yang digambarkan sebelumnya menjadi seperti sia-sia karena waktu yang terbuang percuma.
Aku teramat menikmati saat kamu menceritakan betapa hari-hari menjadi sempurna karena berada dalam genggamanmu. Segala hal yang diprediksikan jadi kenyataan, orang-orang yang berada dalam lingkaranmu menjadi dia yang mampu kamu kendalikan, betapa kesulitan seperti tidak ada sebab kamu bisa memprediksikan masalah dan siap dengan solusinya.
Namun, tahukah kamu betapa kamu menjadi teramat berbeda ketika membahas siapapun yang ternyata tidak berada pada garis yang telah kamu buat sebelumnya? Memang ini tidak terjadi hanya pada kamu saja, banyak orang lain yang mengalami hal yang sama, pun aku.
Tapi segala pusat cerita kali ini hanya milikmu.
Dalam beberapa cerita, kamu menjadi pusatnya.
Dunia bergerak mengelilingimu, menjadikanmu sebagai porosnya hingga celamu tidak mungkin menjadi bahan untuk dicemooh mereka. Kamu adalah titik kumpul yang menjadi penentu baik buruk, susah senang, bahkan maju mundurnya setiap keadaan.
Kamu tidak sadar. Sebab kamu tidak mampu menyombongkan diri perihal menguasai situasi.
Dan... dari semua keluh kesah, omelan, hujatan, umpatanmu, seberapa sering kamu mengucapkan "yasudah" tanpa menambahkan kalimat kekecewaan? Hanya "yasudah" tanpa menambahkan bumbu-bumbu pemantik rasa kesal yang asalnya dari kita sendiri. Membatasi kita untuk tidak disakiti.
Seberapa sering kamu memaklumi keadaan?
Selamat bertumbuh menjadi versi baru, sampai jumpa lain waktu.
(1)
Hari ini, apakah dunia tunduk padamu?
Apakah dunia tunduk
pada inginmu?
Jika kita bicara
tentang realitas kehidupan, apakah itu berarti kita terlalu kaku untuk memaknai
sebuah perjalanan? Sedang kata orang perjalanan hanya sekedar kita melewati
hari-hari yang tidak diharapkanpun pasti akan datang.
Apa yang mudah
dari sebuah perjalanan kehidupan? Tidak ada.
Bahkan saat bersantai
sekalipun selalu ada pikiran mengenai kekhawatiran, padahal belum tentu datang.
Tidak ada yang mudah, sebab kesulitan yang pasti datang adalah teka-teki tidak
terencana yang perlu dipecahkan.
Kemudian,
apakah teka-teki ini yang bisa dengan mudah kita cari jawabannya tanpa perlu
melawan dunia? Langit tak selalu biru, jalan tak selalu rata, kadang kita
berjalan diatas batu-batu tajam dengan kaki telanjang. Dengan harapan yang
mulai retak, dengan cahaya yang tidak lagi menyala.
Kamu pasti
banyak mendengar tentang dunia yang keras, tapi bukan berarti tanpa arti. Katanya
mendewasakan, katanya membuat tangguh, membentukmu menjadi kuat dan tidak mudah
rapuh. Tapi, apakah tanpa air mata? Apakah tanpa pura-pura?
Kamu tau, dunia
ini batu.
Lebih batu dari
isi kepalamu yang seringkali membuat ide gila sendiri. Keras kepalamu tak akan
bisa melawannya. Bisa saja kamu punya prinsip, tapi apakah dunia paham bahwa
prinsipmu yang pasti membawamu menaklukkan dunia dan isinya?
Tapi, hiduplah.
Jangan jadi
pahlawan, jangan pula jadi pecundang.
Hiduplah sebagai
tokoh yang kadang membawa cahaya, kadang yang mematikannya pula.
selamat ulang tahun, cerita ini bersambung.
Setengah mati, aku berusaha tidak merindukan yang tidak seharusnya. Kemana arahnya nanti, aku tidak bisa mengira-ngira. Hanya saja aku terla...